Memahami lebih dalam fungsi dan manfaat kenakeragaman hayati untuk manusia dan lingkungan
Sebagai salah satu destinasi wisata bahari, Pantai Karapyak, Pangandaran, yang terletak di ujung selatan Jawa Barat menawarkan keindahan bentang alam yang menakjubkan bagi para wisatawan yang setiap tahunnya datang dan menjadikan pantai ini sebagai salah satu destinasi pariwisata andalan Jawa Barat. Sebanyak 176 ribu pasang kaki telah menginjak hamparan pasir putih yang membentang dari sisi timur hingga barat Pantai Karapyak [1].

Tidepools dan Makroalga Ulva sp. Foto oleh : Dr.rer.nat. Tri Dewi K. pribadi
Keindahan Pantai Karapyak merupakan perpaduan antara pasir putih dan rataan terumbu karang (reef flat) yang terhampar di sepanjang garis pantain. Wisatawan dapat menyaksikan pemandangan terumbu karang tersebut saat air laut surut dan bersamaan menghadirkan kolam-kolam alami (tidepools) yang menjadi jendela untuk melihat kekayaan biota laut [2]. Kolam-kolam alami ini kerap kali menjadi habitat yang menarik bagi biota laut seperti bintang laut, bulu babi, ikan karang, udang, makroalga dan lamun [3].
Pantai Karapyak dengan keunikannya menjadi tempat yang memungkinkan banyak biota laut hidup dan berkembang biak. Kondisi ini menopang keanekaragaman hayati yang tersusun atas variasi kehidupan yang luar biasa. Bukan hanya tentang berapa jumlah spesies hewan dan tumbuhan yang hadir, tetapi juga mengenai seberapa berlimpah kekayaan genetik yang tersimpan di dalam ekosistem di Pantai Karapyak [4]. Keanekaragaman hayati ini memberikan kontribusi yang bersifat timbal balik yang menguntungkan bagi lingkungan dan manusia. Pantai Karapyak menjadi penggerak perekonomian dalam sektor pariwisatan dan semua aspek yang menyertainya, serta keanekaragaman hayati yang ada berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.

Keanekaragaman Hayati di Pantai Karapyak
Keanekaragaman Hayati di Pantai Karapyak
Pada survey lapangan sepanjang tahun 2024-2025, tim peneliti RKDU Digitallisasi Sumber Daya Hayati terindikasi tingginya kekayaan spesies baik flora dan fauna di Pantai Karapyak. Flora yang kerap kali ditemukan di Pantai Karapyak terdiri dari Lamun (seagrass) dan Makroalga (seaweed). Sepanjang garis pantai telah ditemukan 2 spesies lamun dan 35 spesies makroalga yang terdiri dari makroalga hijau, merah, dan coklat. Lamun dan makroalga memiliki terminologi rumput laut pada masyarakat umumnya, tetapi kedua flora ini sebetulnya memiliki perbedaan yang dapat dengan mudah dilihat dengan kasat mata.
Lamun termasuk kedalam tumbuhan berbunga atau Angiospermae yang dapat hidup pada habitat terendam air dan mampu berkembang hidup di perairan laut dangkal dan pada area muara. Tumbuhan lamun tersusun oleh daun dan seludang, memiliki batang menjajar yang disebut dengan rimpang (rhizome) dan akar yang muncul pada bagian rimpang tersebut [5]. Singkatnya, lamun seperti rumput di darat, hanya saja ia hidup di laut dan menempel di pasir maupun lumpur di dasar laut, berwarna hijau.

Lamun Foto oleh : Dr.rer.nat. Tri Dewi K. pribadi
Makroalga adalah tumbuhan talus (Thallophyta) yang tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati yang hidup dengan menempel pada berbagai jenis substrat seperti pada batu atau karang, yang berlimpah pada area pesisir. Makro alga ini bereproduksi dengan spora, sehingga tidak memiliki bunga. Makroalga ini lah yang secara umum masyarakat sebut sebagai rumput laut yang dapat dipanen, kemudian dikonsumsi manusia setelah melalui berbagai macam pengolahan.

Makroalga Sargassum sp. Foto oleh : Dr.rer.nat. Tri Dewi K. pribadi
Untuk fauna yang ditemukan sepanjang garis pantai Karapyak terdiri dari berbagai jenis invertebrata sepertizoobenthos yang merupakan hewan yang hidup di dasar permukaan laut, dari yang berukuran mikro hingga makro seperti bintang ular laut (bittle star), bulu babi (sea urchin), belut (snowflakes eel), teripang (sea cucumber) dan berbagai macam kerang-kerangan (selengkapnya lihat flyer).
Dari banyaknya keanekragaman hayati yang ada, spesies teripang termasuk ke dalam kategori fauna laut yang dilindungi. Teripang kerap kali dieksploitasi untuk tujuan komersil dikarenakan tingginya permintaan pasar Asia. Di Indonesia pada umumnya kegiatan eksploitasi ini berskala kecil padahal keberadaan teripang sangat penting bagi keberlangsungan rantai makanan pesisir [6]. Kondisi inilah yang mengakibatkan status konservasinya menjadi dilindungi, sehingga tidak diperbolehkan untuk diambil tanpa mengantongi izin dari lembaga yang berwenang.

Fungsi dan Manfaat Keanekaragaman Hayati di Pantai Karapyak
Fungsi dan Manfaat Keanekaragaman Hayati di Pantai Karapyak
Beragamnya hayati yang hadir di Pantai Karapyak membawa banyak manfaat baik dari bagi lingkungan dan bagi kita sebagai manusia. Ekosistem lamun dan makroalga menjadi tempat berlindung dan tempat mencari makan bagi banyak hewan kecil dan besar. Karakteristik lamun yang memiliki perakaran yang kuat dan kompleks juga memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat pesisir dari terjadinya abrasi dan erosi [5,6].
Fungsi lainnya yang sangat krusial dari keberadaan lamun dan makroalga yaitu memproduksi oksigen yang sangat dibutuhkan tidak hanya oleh manusia namun juga untuk makhluk hidup lainnya dari kemampuan mereka dalam melakukan fotosintesis. Manfaat langsung bagi manusia yaitu sebagai sumber pangan tinggi serat dan nutrisi yang diwaktu bersamaan dengan keindahan yang ditawarkan dapat menjadi penggerak perekonomian masyarakat pesisir melalui jasa wisata,kuliner, dan penginapan [7]. Lebih jauh lagi kayanya keanekaragaman hayati yang ada di pantai Karapyak seperti teripang, makroalga dan lamun memberikan sumber bahan baku yang berlimpah bagi industri farmasi dan kosmetika dari adanya senyawa bioaktif yang sangat penting bagi bahan obat-obatan [8].
Kemudian yang tidak kalah penting adalah dengan keberadaan lamun dan makroalga dengan kemampuannya yang efektif dalam menyerap karbon sehingga mampu mengatasi perubahan iklim dan dampak lainnya seperti kenaikan suhu atmosfer bumi, kenaikan muka air laut. Fungsi dan manfaat yang ada dari keanekaragaman hayati di Pantai Karapyak di waktu yang sama berada dalam ancaman lingkungan dan pembangunan yang semakin masif sehingga upaya perlindungan dan konservasi untuk menjamin keberlanjutan manfaat yang diterima menjadi perhatian utama bagi kita semua [9].

Sunset di Pantai Karapyak Foto oleh : Dr.rer.nat. Tri Dewi K. pribadi
Pantai Karapyak dengan Keanekaragaman Hayatinya, memiliki segudang manfaat untuk kesejahteraan manusia dan pelestarian lingkungan. Sudah selayaknya kita, untuk turut menjaganya.
“kebebasan mereka di alam, kesejahteraan bagi manusia”.
Penulis: Tim PPM RKDU Digitalisasi Biodiversitas Sumber Daya Hayati 2025
Referensi
- Rosgani, O. (2026).Kunjungan Wisata Pangandaran 2025 Capai 2,5 Juta Orang, PAD Tembus Rp 47,5 Miliar. [online] https://www.tintahijau.com/wisata/kunjungan-wisata-pangandaran-2025-capai-25-juta-orang-pad-tembus-rp-475-miliar/
- Suhendra N, Hamdani H, & Sahidin A. Struktur Komunitas Makroinvertebrata Di Wilayah Pantai Berkarang Karapyak Pesisir Pangandaran. Jurnal Perikanan Dan Kelautan. 2019; X(1): 103–110.
- Z. King, Examining Tidepools Habitat. (The Rosen Publishing Group, New York, 2009), pp. 1–24.
- Faure D & Joly D. Insight on Environmental Genomics: Taxonomy and Biodiversity. Elsevier; 2016. https://doi.org/10.1016/B978-1-78548-146-8.50005-8
- Rahman, Saiful, Abdulkadir Rahardjanto, and H. Husamah. “Mengenal Padang Lamun (Seagress Beds).” (2022).
- Pribadi TDK, Humaira RW, Haryadi N, Buana ASE, Ihsan YN. Asosiasi Lamun dan Echinodermata Pada Ekosistem Padang Lamun Cagar Alam Leuweung Sancang, Jawa Barat. Jurnal Kelautan. 2020; 13(3): 176-184.
- Pribadi TDK, Nurdiana R, Rosada KK. Asosiasi makroalga dengan gastropoda pada zona intertidal Pantai Pananjung Pangandaran. Jurnal Biodjati. 2017;2(2): 107-114.
- Yang X, Zhao H, Liu Y, et al. Components and bioactivities of sea cucumber: an update. Journal of Food Bioactives. 2025; 30: 25-32. https://doi.org/10.26599/JFB.2025.95030411
- Agustiana MAT, Pribadi TDK, Syamsuddin ML, Hafizt M. Macroalgae As Blue Carbon Vegetation: Seasonal Trends In Biomass And Carbon Storage on Java’s South Coast. Taprobanica. 2025; 14(2), 150–157.
